KEPALA BIDANG TERKAYA…..

Menyandang sebagai Kepala Bidang Aset memang luar biasa, karena sering disebut sebagai kepala bidang terkaya oleh saudara saya Kabag Umum di Setwan Bapak Hadir Imanudin, ya mau bagaimana lagi, kalau begitu adanya. Terkaya maksudnya karena aset yang dikelola diangka triliyun rupiah tepatnya pada tahun 2016 jumlah aset pemkab Tabalong senilai Rp. 3.027.517.603.899,00 yang terdiri dari Tanah, Peralatan dan Mesin, Gedung dan Bangunan, Jalan, irigasi, Jaringan, Aset Tetap Lainnya dan Konstruksi Dalam Pekerjaan.

Dalam ruangan kerja saya ukuran 4 x 4 meter tersimpan ratusan sertifikat tanah, seribu lebih BPKB Kendaraan Dinas yang tersusun rapi dalam berangkas anti api yang tingginya setinggi badan, saking banyaknya dokumen tersebut terpaksa kami menyewa save doposit box di salah satu Bank milih Pemerintah Daerah.

Saya ditugaskan sebagai kepala bidang aset sejak tahun 2013, dimana opini BPK pada saat itu disclimer, artinya Badan Pemeriksa Keuangansetelah melaksanakan Audit tidak bisa menyatakan pendapat atau tidak ada opini yang diberikan. Penyebabnya bisa jadi, selama audit dilaksanakan oleh auditor dibatasi ruang lingkupnya sehingga sulit sekali memperoleh bukti-bukti yang dibutuhkan, untuk bisa menyimpulkan dan menyatakan pendapat bahwa laporan sudah disajikan dengan wajar.

Pengelolaan Aset yang tidak tertib disebut-sebut sebagai salah satu penyebab munculnya opini disclimer tersebut, bagaimana tidak tertib, ketika auditor mencari barang yang tercatata di Kartu Inventaris Barang (KIB), tapi secara fisik barangnya sudah raifatau hilang, ada yang dibawa pegawai atau benar-benar hilang tapi bukti laporan kehilangan dari kepolisian tidak ada, belum lagi nilai aset dalam neraca yang tidak diyakini harga perolehannya, ada yang nilai aset gedung cuma Rp 1.000.000,- atau bahkan sampai Rp 1,-

Permasalahan di aset, menurut salah satu teman saya waktu sama-sama menjadi peserta TOT pengelolaan Barang Milik Daerah di Universitas Gajah Mada yang bekerjasama dengan Kementerian Keuangan RI adalah “ Ada barangnya tapi di catatan tidak ada” atau sebaliknya “ada catatanya barangnya yang tidak ada” piye jal...

Ada barang tapi tidak ada catatan masih sering kita temui, itu disebabkan antara pihak yang berbelanja tidak melaporkan hasil belanjanya kepada pengurus barang, maklum pada masa lalu fokus perhatian tidak terhadap aset tapi kepada pertangungjawaban atau SPJ…bisa jadi itu modus yang dilakukan supaya asetnya lama kelaman bisa diambil oleh yang bersangkutan, dengan alasan tidak tercatat di KIB dan tidak tercatat di Neraca Aset, Neraca Aset kan baru saja mulai diterapkan untuk Pemerintah Daerah.

Sedangkan penyebab untuk aset yang ada catatan, tapi barangnya  tidak ada, itu ibarat kata hampir mirip-mirip, istilah sekarang 11:12 dengan kasus diatas,selain itu, ada juga yang disebabkan karena asetnya sudah rusak berat tapi dibiarkan sampai berlarut-larut tidak ada proses penghapusan, lama kelamaan asetnya diambil oleh pemulung. Secara administrasi selama belum ada proses penghapusan maka aset tetap tercatat terus.

Untuk memperbaiki kualitas laporan keuangan khusunya dalam pengelolaan barang,maka upaya yang di lakukan adalah pada saat itu adalah mengubah metode pencatatan aset dari manual yang menggunakan excel menjadi mengunakan aplikasi, kebetulan BPKP menyediakan aplikasi SIMDA BMD sehingga bisa langsung kami gunakan.

Agar pengelolaan aset menjadi tertib ada berapa usaha yang bisa dilakukan antara lain :

  1. Melakukan inventarisasi dan pelaporan secara Update kondisi BMD;
  2. Melakukan pemutakhiran data secara memadai terhadap Kartu Inventaris Barang (KIB) dan Kartu Inventaris Ruangan (KIR);
  3. Melaksanakan rekonsiliasi BMD setiap bulan bersama dengan pengurus barang SKPD;
  4. Mengamanakan BMD dari sisi Administrasi, Fisik maupun Hukum;
  5. Mengembangan kulitas SDM Pengurus Barang.

Alhamdulillah berat kerja keras semuan Tim, Kabupaten Tabalong pada tahun 2014, 2015 dan 2016 berhasil memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP)

Demikianlah secuil tulisan ini yang terinspirasi dari buku tulisan EWA yang berjudul “menulis di otak” sehingga ingin langsung dipraktekan. “Tulis apa yang ada dipikiran bukan  memikirkan apa yang akan ditulis

 

*) salah satu pendiri Pusat Pengkajian Pengadaan Indonesia (P3I), Kabid Pengelolaan Aset Daerah BPKAD Kabupaten Tabalong, Prov Kalsel(www.husinansari.co.nr)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: