SEMALAM DI KOTA SABANG

Dari sabang sampai merauke

Berjajar pulau-pulau

Sambung memnyambung menjadi satu

Itulah Indonesia

Indonesia tanah airku

Aku berjanji padamu

Menjunjung tanah airku

Tanah airku Indonesia

Sejak kecil waktu di Sekolah Dasar kita sering menyanyikan lagu ciptaan R. Suharjo tersebut, baru diusia 37 tahun saya bisa melihat dan menginjak pulau diujung indonesia, yaitu Pulau We, memang saya pernah mengunjungi beberapa pulau terluar indonesia, antara lain Kepulaan Anambas dan Kepulauan Mentawai, Alhamdulillah perjalan tersebut bisa dilaksanakan berkat undangan Pemerintah Daerah setempat untuk memberi materi tentang Pengadaan Barang Jasa Pemerintah.

Kota Sabang sebelum Perang Dunia II adalah kota pelabuhan terpenting dibanding Singapura, dikenal luas sebagai pelabuhan alam bernama Kolen Station, oleh Pemerintah Kolonial Belanda sejak Tahun 1881, Pada Tahun 1887, Firma Delange dibantu Sabang Haven memperoleh kewenangan menambah, membangun fasilitas dan sarana penunjang pelabuhan. Pada masa kemerdekaan Indoensia, Sabang menjadi pusat pertahanan Angkatan Laut Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan wewenang penuh dari Pemerintah.  (sumber Wikipedia)

Secara geografis kota Sabang dikelilingi oleh Selat Malaka di Utara, Samudra Hindia di Selatan, Selat Malaka di Timur dan Samudra Hindia di Barat, untuk mencapai pulau tersebut, kita bisa menaiki kapal cepat dengan lama perjalanan sekitar 50 menit dari pelabuhan Ulee Lheue Banda Aceh ke Pelabuhan Balohan Sabang. Kurang lengkap rasanya kalau berjalan di kota sabang, jika tidak mengunjungi Titik 0 Kilometer Indonesia yang berada di Desa Iboih Ujung Ba’u, dari pelabuhan kota sabang kita harus naik angkutan darat atau charter mobil dengan lama perjalanan 45 menit.

Jalan menuju Km 0 tersebut, sekarang sudah beraspal dan mulus sekali, kelokan yang tajam dan jalan menanjak sering kita temui, sepanjang perjalanan kita akan melaui kawasan hutan wisata. Menurut guide yang membawa kami menjelaskan, bahwa selama Pak Jokowi Presiden sudah beberapa kali kelokasi tersebut. Dulunya jalan rusak berat dan sempit-sempit. Sejak beliau berjalan kaki dari Pos TNI, tanpa banyak bicara dan meminta para menteri yang mendapinginya untuk melebarkan jalan di kawasan hutan lindung.

Melihat kondisi tersebut, harusnya bisa ditiru untuk menyelesaikan permasalahan akses jalan rusak menuju desa terpencil di daerah kita seperti Panaan, Misim dan Dambung yang melewati kawasan hutan lindung, apakah harus menunggu Pak Presiden Jokowi dulu datang, sehingga izin pinjam pakai kawasan hutan cepat keluar. Kasihan masyarakat, para guru dan tenaga medis yang bertugas di desa tersebut harus melalui jalan kubangan lumpur ketika musim hujan tiba.

Dilema memang, Pemerintah Daerah tidak berani mengaspal jalan tersebut tanpa izin pinjam pakai keluar dari Kementrian Kehutanan, bisa jadi Pemerintah Pusat selektif mengeluarkan izin, jika jalan tersebut mulus, ada kemungkinan meningkatnya pelaku ilegal loging. Satu hal yang saya salut dari masyarakat Sabang adalah, bahwa secara hukum adat tidak dibolehkan menebang satu pohon pun di kawasan hutan lindung, sangat berbeda dengan wilayah Kalimantan, hutan habis digunduli oleh perusahaan-perusahaan besar, sehingga dampaknya sekarang banjir yang sangat sering dan lama.

Jam 18.00 sore saya tiba di lokasi Titik Km 0 tersebut, tampak bagunan tugu yang tinggi dan besar, dimana bertuliskan angka 0 yang disokong oleh empat pilar dengan makna semboyan bahwa dari sabang sampai marauke, dari miangas sampai pulau rote yang merupakan batas kedaulatan indonesia, disamping tugu terlihat senjata khas aceh yaitu rencong dimana bermakna bahwa rakyat aceh pernah memperjuangkan NKRI, dan dipuncak tugu ada lambang Garuda Pancasila.

Mumpung belum terlalu malam, saya menyempatkan untuk berbelanja pakaian anak-anak dengan gambar tugu Km 0 Indonesia sebagai bukti bahwa pernah berkunjung ke lokasi tersebut, hari sudah menjelang malam dan lokasi pun sudah mulai gelap, maklum tidak ada aliran listrik di tempat ini, sepanjang jalan pun sangat gelap sekali, untungnya ada dipasang lampu jalan dengan tenaga solar cell atau tenaga surya, jaraknya antar lampu juga sangat jauh.

Untuk menikmati makan malam, kami singgah di perkampungan dekat kota sabang untuk makan ikan bakar. Maknyusss…. enak sekali rasa ikannya, bisa jadi karena segar dan tidak pakai formalin dan langsung didapat dari nelayan yang pulang dari melaut. Sambil menikmati makanan kami melihat beberapa wisatawan mancanegara, ada yang dari Tiongkok, Malaysia dll. Rupanya lokasi di kota sabang banyak diminati wisatawan mancanegara karena lokasinya sangat baik untuk snorkeling dan diving.

Menginap di tepi pantai merupakan kesan tersendiri, pada malam hari kita bisa mendengarkan deru ombak yang kencang, angin pantai yang berhembus sejuk, menambah nikmatnya suasana malam yang cerah, Casa Nemo Beach Resort terletak di Kelurahan Le Meulee Sabang, bagunan dari kayu dan sangat tradisional, di teras depan kamar disedakan ayuanan sehingga kita bisa bersantai menikmati matahari terbit dipagi hari. Setiap kasur disediakan kelambu, saya teringat ketika anak-anak di pedalaman Kalimantan Tengah selalu tidur mengunakan kelambu. Hmmmm. Lumayan menghindari gigitan nyamuk. Pesan saya kalau menginap di hotel ini kita harus membawa sikat gigi karena tidak disiapkan oleh pihak hotel, bahkan tidak ada toko terdekat yang menjualnya.

Waktu pulang dari Kota Sabang, saya bertemu orang tua yang cukup renta, beliu mencerikan asal mula beliau pindak ke kota sabang, sebelumnya berasal dari kota medan, kata beliau bahwa sangat senang tinggal di Pulau We ini, walaupun berada di kepulauan, kehidupan gotong royong dan kekeluargaan sangat erat, mungkit karena penduduknya sedikit, maklum hanya ada 2 kecamatan di Kota Sabang. Sekolah dan kesehatan dijamin Pemerintah Daerah sampai bantuan apabila ada kematian sebesar Rp. 5.000.000,- (lima juta rupiah), ujar beliau sambil menutup pembicaraan karena pangilan kapal cepat sudah berbunyi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: